Selasa, Desember 11, 2007


What If I Had Never Tried It
(Bagaimana Jika Aku Tak Pernah Mencobanya)

Sewaktu kecil, ia hanya ingin jadi pembalap sepeda tercepat. Impiannya menjadi juara dunia. Tetapi, ia telah meraih lebih dari impian tertingginya: ia mendominasi berbagai kejuaraan, ia mematahkan lusinan rekor, ia mengoreksi batas kecepatan dalam dunia balap motor, dan ia menciptakan tren baru.
Ia adalah dewa sirkuit motor, raja MotoGP, penguasa balapan motor. Ia tak terkalahkan.

Pada 2002, saat usianya baru 23 tahun, ia sudah mampu meraih sukses yang belum pernah dicapai siapa pun, memenangkan kejuaraan dunia untuk semua kategori: 125cc, 250cc, 500cc, dan MotoGP.

Ia telah menang di level internasional dengan Aprilia, Honda, dan Yamaha.
Sabtu, 18 April 2004 di Welkom, Afrika Selatan adalah hari yang akan selalu diingat dalam sejarah balapan motor dunia, suatu momen yang mengubah wajah perhelatan kejuaraan MotoGP. Valentino Rossi memenangkan balapan pertamanya bersama Yamaha, mengalahkan Honda. Saat itu juga balapan awal Kejuaraan Dunia 2004. Sesuatu yang sebelumnya tak pernah terpikirkan, bahkan bagi diri Rossi sendiri.

Dengan gaya tutur yang mudah dicerna, dalam otobiografinya ini, secara terang benderang The Doctor mengungkap banyak hal yang belum pernah diutarakannya ke media massa: Kepindahan dirinya dari Honda ke Yamaha, pada saat tertentu, menimbulkan tanda tanya bagi sebagian besar orang. Mengapa harus pindah? Tak puaskah dengan apa yang selama ini diperolehnya di Honda? Mengapa juga tim yang dipilih--mungkin sebagai tujuan akhir karirnya di dunia balap motor--adalah Yamaha? Mengapa bukan Ducati? Atau tim lain? Di buku ini, Rossi sendiri mengungkap jawaban dari pertanyaan-pertanyaan itu. Di samping itu, kita juga diajak menengok masa-masa awal ia meniti karir, keseharian dengan teman-temannya di Urbino, Italia, perseteruannya dengan Biagi, mengapa nomor 46 menjadi spesial buat Rossi, dan masih banyak lagi.

ST. THOMAS AQUINAS ± 1225-1274

 
Filosof Italia Thomas Aquinas masyhur karena tulisan-tulisan teologinya, khusus tulisan Summa Theologia-nya yang mungkin pernyataan yang punya bobot kuasa terbesar dalam doktrin teologi Katolik yang pernah ada.
Tak salah kalau dibilang, tak pernah ada orang yang menggarap sistem filosofi yang begitu lengkap dan begitu terperinci dan begitu berpertimbangan cermat seperti dilakukan oleh Thomas Aquinas. Para pembaca, kalaulah tidak setuju dengan asumsi atau kongklusi Aquinas, toh tidak bisa tidak akan terkesan terhadap kehebatan orang ini. Tetapi, sebagian tulisan-tulisan Aquinas berisikan masalah abstrak dan metafisika yang awam tidak melihat makna praktisnya. Dia memasalahkan soal-soal etika juga. Tetapi, tulisan-tulisannya, walaupun dia sistematiskan keyakinan-keyakinan Katolik sebelumnya, tidak mencerminkan perubahan besar dalam cita-cita etika atau dalam pandangan politik. Juga tampaknya para pembaca tulisan-tulisan Aquinas tidak lantas jadi pemeluk Katolik atau Kristen. Karena itu, betapa pun pandai dan cermat spekulasi Aquinas, saya ragu tulisan-tulisan itu punya pengaruh banyak terhadap perilaku manusia atau terhadap jalannya arah sejarah. Atas dasar itulah dia disingkirkan dari daftar utama buku ini.

Jika anda pengguna aktif internet, berhati-hatilah! Karena semakin bervariasinya penggunaan internet ternyata juga terdapat celah terjadinya penipuan dan makin lama semakin meningkat. Hal ini dibuktikan dengan adanya temuan kalau dari setiap 10 pengguna internet menjadi korban penipuan online pada tahun lalu dan rata-rata setiap orang tertipu 875 poundsterling.
Hal ini banyak disebabkan karena banyak yang tidak menggunakan langkah-langkah dasar untuk melindungi diri saat online. Bahkan kurang dari setengah pengguna aktif yang benar-benar merasa harus bertanggung jawab secara keseluruhan atas keamanan mereka selama menggunakan internet.
Dari berbagai penipuan yang terjadi diantaranya, 6% dialami saat berbelanja online, 4% mengalami penipuan umum dan 3% menjadi korban kejahatan terhadap perbankan atau kartu kredit.
Survei terhadap 2.400 orang itu dilakukan “You Gov for Get Safe Online”, kelompok bentukan pemerintah, polisi, dan perusahaan swasta untuk mengampanyekan keamanan saat menggunakan internet
Hamper setengah dari pengguna aktif mengatakan tidak punya perlindungan terhadap spyware yang merupakan piranti lunak computer yang secara diam-diam mengumpulkan data pribadi seseorang saat dia menggunakan internet.
Sperlima pengguna aktif mengatakan malah mengirim balasan dari pesan spam yang seharusnya sangat berbahaya dan 10% pengguna aktif terjerumus juga mengklik link internet yang terdapat di email spam.
Hampir seperempat pengguna aktiof mengatakan semua password mereka sama, sedenagkan 5% menggunakan password yang sama untuk setiap situs internet yang mereka buka. Menurut survey itu juga hamper setengah pengguna aktif merasa bertanggung jawab atas keamanan online mereka. Setiap satu dari enam pengguna aktif berpendapat adalah tanggung jawab bank untuk melindungi data mereka dan 13% mengemukakan penyedia layanan internet juga harus ikut bertanggung jawab.
Maka dari itu, harus ada pelajaran di sekolah khususnya bagi anak-anak agar tetap aman selama berinternet.

Minggu, November 25, 2007

Suatu hari ada seorang anak disuruh ibunya untuk membeli gula 1 kg.

Ibu: Nak, tolong belikan ibu gula satu kilo!

Anak: Iya, bu!

Dan anak itu pun pergi ke toko di dekat rumah mereka. Kebetulan yang punya toko itu seorang kakek yang agak tuli, sehingga untuk berbicara harus agak keras.

Anak: KAKEK, BELI GULA 1 KILO!

Kakek tidak menjawab, anak itu pun teriak lebih keras lagi.

Anak: KAKEK, BELI GULA 1 KILO!!

Tetapi si kakek pun masih tidak menjawab. Anak itu lalu berteriak dengan suara yang paling keras.

Anak: KAKEK, BELI GULA 1 KILO!!!

Kakek: (Dengan sikap yang agak marah, ia menjawab) KAMU INI NGAPAIN TERIAK-TERIAK? KAMU KIRA KAKEK TULI? MAU BELI BERAS BERAPA KILO?

Anak: ???